Kamis, 14 Agustus 2008

PESONA JIWA RAGA

Pada mulanya adalah fisik. Seterusnya adalah budi. Raga menarik pandanganmu. Jiwa membangun simpatimu. Badan mengeluarkan gelombang magnetiknya. Jiwa meniupkan kebajikannya.
Begitulah cinta tersurat di langit kebenaran. Bahwa karena cinta jiwa harus selalu berujung dengan sentuhan fisik, maka ia berdiri dalam tarikan dua pesona itu: jiwa dan raga.
Tapi selalu ada bias disini. Ketika ketertarikan fisik disebut cinta tapi kemudian kandas ditengah jalan. Atau ketika cinta tulus pada kebajikan jiwa tak tumbuh berkembang sampai waktu yang lama. Bias dalam cinta jiwa ini terjadi karena ia selalu merupakan senyawa spiritualitas dan libido. Kebajikan jiwa merupak udara yang memberi kita nafas kehidupan yang panjang. Tapi pesona fisik adalah sumbu yang senantiasa menyalakan hasrat asmara.
Biasnya adalah ketidak jujuran yang selalu mendorong kita memenangkan salah satunya jiwa atau raga. Jangan pernah pakai “atau” disini. Pakailah “dan” : kata sambung yang menghubungkan dua pesona itu. Sebab kita diciptakan dengan fitrah yang menyenangi keindahan fisik. Tapi juga dengan fakta bahwwa daya tahan pesona fisik kita ternyata sangat sementara. Lalu apakah yang akan dilakukan sepasang pencinta jika mereka berumur 70 tahun? Bicara. Hanya itu. Dan dua tubuh yang tidur berdampingan diatas ranjang yang sama hanya bisa saling memunggungi. Tanpa selera. Sebab tinggal bicara saja yang bisa mereka lakukan. Begitulah pesona jiwa perlahan menyeruak diantara lapisan-lapisan gelombang magnetic fisik : lalu menyatakan fakta yang tidak terbantahkan bahwa apa yang membuat dua manusia bisa tetap membangun sebuah hubungan jangka panjang sesungguhnya adalah kebajikan jiwa mereka bersama.
Seper empat abad lamanya Rasulullah SAW hidup bersama Khadijah. Perempuan agung yang pernah mendapatkan titipan salam dari Allah lewat malaikat Jibril ini menyimpan keagungannya begitu apik pada gabungan yang sempurna antara pesona jiwa dan raganya. Dua kali menjanda dengan tiga anak sama sekali tidak mengurangi keindahan fisiknya. Tapi ada yang menarik dari kehidupannya mungkin bukan ketika akhirnya pemuda terhormat, Muhammad bin Abdullah, memerima uluran cintanya. Yang lebih menarik dari itu semua adalah fakta bahwa Rasulullah SAW sama sekali tidak pernah berfikir memadu Khadijah dengan perempuan lain. Bahkan ketika Khadijah wafat, Rasulullah SAW hampir memutuskan untuk tidak akan pernah menikah lagi.
Bukan cuma itu. Bahkan ketika akhirnya menikah setelah wafatnya Khadijah, dengan janda dan gadis, beliau tetap berkeyakinan bahwa Khadijah tetap tidak tergantikan. “Allah tetap tidak menggantikan Khadijah dengan seseorang lebih baik darinya, “ kata Rasulullah SAW.
Terlalu agung mungkin. Tapi memang begitu ia ditakdirkan : menjadi cahaya keagungan yang menerangi jalan para pencinta sepanjang hidup. Pengalaman disekitar kita barangkali justru selalu tidak sempurna. Karena biasanya selalu hanya ada “atau”, bukan “dan” dalam pesona kita. Atau bahkan tidak ada “dan” apalagi “atau”. Ketika pesona terbelah seperti itu, cinta pasti berada dipersimpangan jalan, selamanya diterpa cobaan, seperti virus yang menggerogoti tubuh kita. Dalam keadaan begitu penderitaan kadang tampak seperti buaya yang menanti mangsa dalam diam.

Pesona Ketiga

Dihadapan istrinya terduduk. Diam. Hening. Hanya tatapan mata yang saling bicara. Tekad memancar tegas setegas pekat hitam kedua bola matanya. “Kini tiba giliranmu, istriku”. Umar bin Abdul Aziz membuaka pembicaraan. “Perbaikan dan reformasi dinasti Bani Umayyah sudah kumulai dari diriku sendiri. Selanjutnya adalah giliranmu. Kemudaian anak-anak. Kemudian keluarga besar istana. Sekarang kembalikan seluruh harta dan perhiasanmu ke kas negara.
Istrinya langsung angkat kepala. “Tidak, Umar! Ini semua adlah pemberian ayahku, Abdul Malik Bin Marwan.” Umar terdiam, sejenak. Lalu menjawab, “Tapi uang untuk membeli itu semua berasal dari kas negara, Fatimah!” Dialog itu terus berlangsung, mendatar dan mninggi, antara setuju dan tidak setuju.
Beberapa saat Umar tentunduk. Terpekur. Tantangan itu ternyata ada dihadapannya kini. Dari orang terdekat dan paling ia cintai. Bisakah ia melanjutkan perjuangannya kalau hambatannya justru datang dari cinta? Tidak! Tidak boleh! Ia harus terus melangkah maju di jalan terjal perbaikan pemerintahan. Tiba-tiba Umar bangkit dan berkata, “Fatimah, sekarang aku sudah bertekad untuk tidak mundur. Dan kamu punya dua pilihan: kembalikan seluruh harta itu, atau jika tidak, hubungan kita berakhir sampai disini.” Fatimah terhenyak. Kesadarannya seperti ditampar tangan kebenaran. Hanya sesaat kemudian Fatimah mendengarkan panggilan nuraninya. Ia memilih untuk terus bersama Umar.
Pada suatu masa dalam hidup kita, fisik kita berhenti menuntut hak-haknya, akal kita berhenti meminta penjelasan-penjelasan. Karena ada kebutuhan baru yang muncul begitu kita makin menua: kebutuhan akan transendednsi spiritual karena tuntutan “tanah” tak lagi punya gravitasi yang kuat dalam tubuh kita. Saat itu kesadaran akan fisik lenyap dan kehebatan akal menjadi terlalu sededrhana untuk menjelaskan temuan-temuan ruh dalam kehidupan. Saat itu mata ruh kita mulai menembus tembok-tembok ruang dan waktu, melewati kesementaraan pada panggilan raga dan jiwa, dan memasuki gerbang keabadian ruh yang telah terbebaskan. Karena itu godaan raga dan jiwa pada Umar lenyap ketika ia harus memilih jalan ruhnya: tapi justru disitulah pesona keabadiannya menampakkan diri, dan seperti angin sepoi yang masuk lewat jendela bersama cahaya matahari, kebenaran itu merangkuh seluruh dirinya. Ada keagungan transendensi yang datang bersama kebenaran cinta. Itu mencerahkan. Itu menghidupkan.
Dalam transendensi itu tidak ada cantik atau jelek. Tidak ada seksi atau tidak seksi. Yang ada hanya kebenaran dan keabadian. Itu yang memberinya aura keagungan. Setiap kali kamu melihat mereka yang memiliki pesona itu ingatanmu langsung kembali ke masa depan, melampui semua yang kini dan di sini, masa dimana waktu tak lagi punya ujung. Maka pesona mereka membebaskanmu seperti Buroq membawa Muhammad melewati atmosfir bumi dan menembus langit demi langit menuju singgasana Zat Yang Abadi. Dan begitu jugalah Muhammad SAW mengakhiri konflik dedngan istri-istrinya semmbari mengatakan, “Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan kepadamu mut’ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. Dan jika kamu sekalian menghendaki (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya serta (kesenangan) di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik diantaramu pahala yang besar.”

Mengelola Ketidaksempurnaan

Apalagi yang tersisa dari ketampanan setelah ia dibagi habis oleh Yusuf dan Muhammad. Apalagi yang tersisa dari kecantikan setelah ia terbagi habis oleh Sarah, istri Nabi Ibrahim, dan Hadijah, istri Nabi Muhammad saw? Apalagi yang tersisa dari pesona kebajikan hati setelah ia direbut Utsman bin Affan? Apalagi yang tersisa dari kehalusan budi setelah ia direbut habis oleh Aisyah?
Kita hanya berbagi pada sedikit yang tersisa dari pesona jiwa raga yang telah direguk habis oleh para nabi dan orang shahih terdahulu. Karena itu persoalan cinta kita selalu permanen begitu: Jarang sekali pesona jiwa raga menyatu secara utuh dan sempurna dalam diri kita, dengan begitu, selalu sulit. Ada lelaki ganteng atau perempuan cantik yang kurang berbudi. Sebaliknya, ada lelaki saleh yang tidak menawan atau perempuan salehah yang tidak cantik. Pesona kita selalu tunggal. Padahal cinta membutuhkan dua kaki untuk bisa berdiri dan berjalan dalam waktu lama. Maka tentang pesona fisik itu Imam Ghazali mengatakan: “Pilihlah istri yang cantik agar kamu tidak bosan.” Tapi tentang pesona jiwa itu Rasulullah saw bersabda: “tapi pilihlah calon istri yang taat beragama niscaya kamu pasti beruntung.”
Persoalan kita adalah ketidaksempurnaan. Seperti ketika dunia menyaksikan tragedi cinta Putri Diana dan Pangeran Charles. Dua setengah milyar manusia menyaksikan pemakamannya si Televisi. Semua sedih. Semua menangis. Putri yang pernah menjadi trendsetter kecantikan dunia dekade 80-an itu rasanya terlalu cantik untuk disia-siakan oleh sang pangeran. Apalagi Camila Parker yang menjadi kekasih gelap sang pangeran saat itu, secara fisik sangat tidak sebanding dengan Diana. Tapi tidak ada yang secara objektif mau bertanya ketika itu. Kenapa akhirnya Charles lebih memilih Camila, perempuan sederhana, tidak bisa dibilang cantik, dan lebih tua, ketimbang Diana, gadis cantik berwajah boneka itu? Jawaban Charles mungkin memang terlalu sederhana. Tapi itu fakta, “karena saya lebih bisa bicara dengan Camila.”
Kekuatan budi memang bertahan lebih lama. Tapi pesona fisik justru terkembang di tahun-tahun awal pernikahan. Karena itu ia menentukan. Begitu masa uji cinta selesai, biasanya lima sampai sepeluh tahun, kekuatan budi akhirnya yang menentukan sukses tidaknya sebuah hubungan jangka panjang. Dampak gelombang magnetik fisik berkurang atau hilang bersama waktu. Bukan karena kecantikan atau ketampanan berkurang. Yang berkurang adalah pengaruhnya. Itu akibat sentuhan terus menerus yang mengurangi kesadaran emosi tentang gelombang magnetik tersebut.
Apa yang harus kita lakukan adalah mengelola ketidaksempurnaan melalui proses pembelajaran. Belajar adalah proses beubah secara konstan untuk menjadi lebih baik dan sempurna dari waktu ke waktu. Fisik mungkin tidak bisa dirubah. Tapi pesona fisik bukan hanya tampang. Ia lebih ditentukan oleh aura yang dibentuk dari gabungan antara kepribadian bawaan, pengetahuan dan pengalaman hidup. Ketiga hal itu biasanya termanifestasi pada garis-garis wajah, senyuman dan tatapan mata serta gerakan refleks tubuh kita. Itu menjelaskan mengapa sering ada lelaki yang tidak terlalu tampan tapi mempesona banyak wanita. Begitu juga sebaliknya.
Itu jalan tengah yang bisa ditempuh semua orang sebagai pecinta pembelajar. Karena pengetahuan dan pengalaman adalah perolehan hidup yang membuat kita tampak matang. Dan kematangan itulah pesonanya. Sebab, setiap kali pengetahuan kita bertambah, kata Malik bin Nabi, wajah kita akan tampak lebih baik dan bercahaya.

Kata Terurai Jadi Laku

Kulitnya hitam, wajahnya jelek, usianya tua. Waktu pertama kali masuk ke rumah wanita itu, hampir saja ia percaya kalau ia berada di rumah hantu. Lelaki kaya dan tampan itu sejenak ragu kembali. Sanggupkah ia menjalani keputusannya? Tapi ia segera kembali pada tekadnya. Ia sudah memutuskan untuk menikahi dan mencintai perempuan itu. Appaun resikonya.
Suatu saat perempuan itu berkata padanya, “ini emas-emasku yang sudah lama kutabung, pakailah ini untuk mencari wanita idamanmu, aku hanya membutuhkan status bahwa aku pernah menikah dan menjadi seorang istri.” Tapi lelaki itu malah menjawab, “Aku sudah memutuskan untuk mencintaimu, aku tak kan menikah lagi.”
Semua orang terheran-heran. Keluarga itu tetap utuh sepanjang hidup mereka. Bahkan mereka kemudian dikaruniai anak-anak dengan kecantikan dan ketampanan yang luar biasa. Bertahun-tahun kemudian orang-orang menanyakan rahasia ini padanya. Lelaki itu menjawab enteng, “ Aku memutuskan untuk mencintainya, Aku berusaha melakukan yang terbaik. Tapi perempuan itu melakukan semua kebaikan yang bisa ia lakukan untukku. Sampai aku bahkan tak pernah merasakan kulit hitam dan wajah jeleknya dalam kesadaranku. Yang kurasakan adalah kenyamanan jiwa yang melupakan aku pada fisik.
Begitulah cinta ketika terurai jadi laku. Ukuran iintegritas cinta adalah ketika ia bersemi dalam hati..terkembanglah dalam kata…terurai dalam laku…kalau hanya berhenti dalam hati, itu cinta yang lemah dan tidak berdaya. Kalau hanya berhenti dalam kata, itu cinta yang disertai kepalsuan dan tidak nyata..Kalau cinta sudah terurai jadi laku, cinta itu sempurna seperti pohon; akarnya terhunjam dalam hati, batangnya tegak dalam kata, buahnya menjumbai dalam laku. Persis seperti iman, terpatri dalam hati, terucap dalam lisan dan dibuktikan oleh amal.
Semakin dalam kita merenungi makna cinta, semakin kita temukan fakta besar ini, bahwa cinta hanya kuat ketika ia datang dari pribadi yang kuat, bahwa integritas cinta hanya mungkin lahir dari pribadi yang juga punya integritas. Karena cinta adalah keinginan baik kepada orang yang kita cintai yang harus menampak setiap saat sepanjang kebersamaan.
Rahasia dari sebuah hubungan yang sukses bertahan dalam waktu lama adalah pembuktian cita terus menerus. Yang ddilakukan para pecinta sejati disini adalah memberi tanpa henti. Hubungan bertahan lama bukan karena perasaan cinta yang bersemi dalam hati, tapi karena kebaikan tiada henti yang dilahirkan oleh perasaan cinta itu. Seperti lelaki itu, yang terus membahagiakan istrinya, begitu ia memutuskan untuk mencintainya. Dan istrinya, yang terus menerus melahirkan kebajikan dari cinta tanpa henti. Cinta yang tidak terurai jadi laku adalah jawaban atas angka-angka perceraian yang semakin menganga lebar dalam masyarakat kita.
Tidak mudah memang menemukan cinta yang ini. Tapi harus begitulah cinta, seperti kata Imam Syafi’I,
Kalau sudah pasti ada cinta di sisimu
Semua kan menjadi enteng
Dan semua yang ada di atas tanah
Hanyalah tanah jua.

Rabu, 13 Agustus 2008

Totalitas Cinta

Bait-bait ini adalah sebuah kisah tentang totalitas cinta sejati dan hakiki yang terjelma dari sosok insan pilihan yang berhati lembut dan berjiwa penuh kasih sayang
Detik-detik…….
Pagi itu, meski langit telah mulai menguning, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap. Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbata memberikan petuah,
“Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertaqwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian, sunnah dan Al Qur’an. Barangsiapa mencintai sunnahku, berarti mencinntai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan masuk surga bersama aku.”
Khutbah singkat itu diakhiri deengan pandanngan mata Rasulullah yang teduh menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, umar dadanya naik turun menahan nafas dan tangisnya. Ustman menghela nafas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba. “Rasulullah akan meninggalkan kita semua.” Desah hati semua sahabat kala itu.
Manusia tercinta itu, hampir hampir usai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhaal dengan sigap menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar.
Saat itu, seluruh sahabat yang hadir disana pasti akan menahan detik-detik berlalu, kalau bisa.
Matahari kian tinggi, tetapi pintu Rasulullah masih tertutup. Sedang didalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.
Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam.
“Assalaamualaikum…., Bolehkah saya masuk?” tanyanya.
Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, “Maafkanlah ayahku sedang demam” Kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.
Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya kepada Fatimah, “Siapakah itu wahai anakku?”
“Tak tahulah aku ayah, sepertinya ia baru sekali ini aku melihatnya” Tutur Fatimah lembut.
Lalu, Rasulullah menatap putrinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Satu-satu bagian wajah putrinya seolah hendak dikenang.
Lalu Rasulpun berucap…….
“Ketahuilah, dialah yang mennghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul maut” kata Rasulullah. Fatimahpun menahan ledakkan tangisnya.
Kemudian….
Malaikat maut datang menghampiri Rasulullah dengan mimik sedih tiada terkira.

Rasulullah menanyakan kepada Izrail
“Kenapa Jibril tidak ikut menyertai?”
Kemudian dipanggillah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap diatas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.
“Jibril, jelaskan apa hakku nanti dihadapan Allah?” tanya Rasulullah deenngan suara amat lemah.
“Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu wahai sang kekasih Allah” Jawab Jibril.
Namun jawaban Jibril ternyata tak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.
Jibrilpun bertanya kembali
“Engkau tidak senang mendengar kabar ini ya Rosul?”
“Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?” tanya Rasul kembali
“Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: “Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada didalamnya “ Kata Jibril
Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Tampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang.
“Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini” lirih Rasulullah mengaaduh. Fatimah terpejam, Ali yang disampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril membuang muka.
“Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?” tanya Rasulullah pada malaikat pengantar wahyu itu dengan suara tertatih.
“Siapakah yang tega melihat kekasih Allah direnggut ajal” Kata Jibril.
Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memkik, karena sakit yang tak tertahankan lagi.
Dan beliaupun berucap….
“Ya Allah, dasyat nian maut ini, begitu hebatnya sakaratul maut ini, hingga tak pernah kurasakan sepanjang hidup di dunia ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan Kau timpakan kepada umatku”
Dan…Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi.
Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendeekatkan telinganya.
“Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku, peliharalah shalat dan santuni orang-oramg lemah diantaramu”
Diluar pintu, tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan diwajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.
Terdengar sayup beliau berucap….”Ummatii, ummatii, ummatiii…” …”Ummatku…ummatku…ummatku”
Dan, pupuslah kembang hidup manusia mulia itu.
*********
Kehilangan…tentu itu yang dirasakan oleh setiap sahabat pada waktu itu…
Kehilangan orang yang paling mereka sayangi, kehilangan orang yang paling mereka cintai, lebih dari mereka mencintai dirinya sendiri seperti yang selalu Rasul contohkan….
Namun apalah daya….Allah maha adil, Dia selalu mempunyai rencana….
Kepergian Rasul dari dunia fana ini memang untuk selamanya, namun cintanya, kasihnya dan pengorbanannya akan tetap lekat dihati para sahabat….
Dan…semoga apa yang diwariskan Rasul kepada sahabat akan terus meresap ke setiap generasi hingga saat ini…Semoga tetes-tetes cinta itu akan terus mengalir dalam setiap aliran darah ini…hingga kita mampu untuk merindukannya, merindukan dihari akhir nanti untuk berada dibarisannya….merindukan untuk dapat melihatnya dan meresapi aliran cinta Rasul sesungguhnya…..
Semoga …………….

'Cinta-Mu dan Cintamu'

Ketidakberdayaan apa ini ?
Pikiranku terpaku, langkahku terpatri
Deret nafasku menopang nyeri
Sungguh, aku tak mengerti
Aku duduk di sebuah persimpangan di negeri yang koyak
Melamun diantara kebisingan yang pekak
Mencoba merongrong siang yang berarak
Karena malam telah kehabisan sendu yang bercorak
Sungguh, isi jiwaku tetap tak mengerti
Siang itu, hujan jatuh layaknya barisan yang berderu
Mencari celah diantara awan pekat yang bergurau
Menghindar dari kutukan yang sebenarnya adalah kabut kebenaran yang tak tersentuh
Tapi aku berusaha tegak
Aku yang congkak dengan keterbatasanku yang cekak
Aku yang menangis, memohon parau ngilu yang sesak
Aku yang termenung di persimpangan menyayangkan jarak
Mencoba membawa jasad dan jiwa yang pedih untuk dituntun
Tetap menuntun
Tetap menanti
Masih menunggu
Menunggu cinta-Mu dan cintamu
Hhhh...........
Seluruh pikirku masih tak memahami
Aku merajuk pada-Mu dan padamu
Dalam diamku masih terdapat harap untuk-Mu dan untukmu
Aku meminta pada-Mu dan padamu
Jangan padamkan rasa akan-Mu dan akanmu
Aku bersungguh di dekat-Mu dan dekatmu
Bahwa, aku sujud dalam sungguh-Mu
Dan merengek pada kepuraan darimu
Pada alamku masih belum juga mengilhami
Dalam selongsong yang kosong ini
Pertama mendamba kasih-Mu
kedua mengharap hadirmu
Kalau bisa kukatakan
Dalam dekat akan-Mu menenangkanku
Dalam jarak akanmu menggelisahkanku
Bila pertemuan dengan-Mu dan denganmu
Menjadi obat tidur pada malam yang mencekam suaraku
Basuhlah aku dengan kasih-Mu
Dan jumpa denganmu
Walaupun aku hanya termenung dalam menenung benangnya dalam tempurung
Aku tetap menuntun
Tetap menanti
Masih menunggu
Menunggu cinta-Mu dan cintamu
.....................................................

Jumat, 08 Agustus 2008

Kenapa Wanita Menangis?

Seorang anak kecil bertanya kepada ibunya “Mengapa ibu menangis? “karena aku seorang wanita”, kata sang ibu kepadanya. “Aku tidak mengerti”, kata anak itu.

Ibunya hanya memeluknya dan berkata, “Dan kau tak kan mengerti”
Kemudian anak laki-laki itu bertanya kepada ayahnya, “Mengapa ibu suka menangis tanpa alasan?”

“Semua wanita menangis tanpa alasan”, hanya itu yang dapat dikatakan oleh ayahnya.

Anak laki-laki kecil itupun lalu tumbuh menjadi seorang laki-laki dewasa, tetap ingin tahu mengapa wanita menangis.

Akhirnya dia menghubungi Tuhan dan ia bertanya, “Tuhan, mengapa wanita begitu mudah menangis?”

Tuhan Berkata:
“Ketika aku menciptakan seorang wanita, ia diharuskan untuk menjadi seorang yang istimewa. Aku membuat bahunya cukup kuat untuk menopang dunia; namun, harus cukup lembut untuk memberikan kenyamanan”
Aku memberikannya kekuatan dari dalam untuk mampu melahirkan anak dan menerima penolakan yang seringkali datang dari anak-anaknya”
“Aku memberinya kekerasan untuk membuatnya tetap tegar ketika orang-orang lain menyerah, dan mengasuh keluarganya dengan penderitaan dan kelelahan tanpa mengeluh”
“Aku memberinya kepekaan untuk mencintai anak-anaknya dalam setiap keadaan, bahkan ketika anaknya bersikap sangat menyakiti hatinya”
“Aku memberinya kekuatan untuk mendukung suaminya dalam kegagalannya dan melengkapi dengan tulang rusuk suaminya untuk melindungi hatinya”
“Aku memberinya kebijaksanaan untuk mengetahui bahwa seorang suami yang baik takkan pernah menyakiti isterinya, tetapi kadang menguji kekuatannya dan ketetapan hatinya untuk berada disisi suaminya tanpa ragu”
“Dan akhirnya, Aku memberinya air mata untuk diteteskan, ini adalah khusus miliknya untuk digunakan kapan pun ia butuhkan.”

Kau Tahu:

“Kecantikan seorang wanita bukanlah dari pakaian yang dikenakannya, sosok yang ia tampilkan, atau bagaimana ia menyisir rambutnya”
“Kecantikan seorang wanita harus dilihat dari matanya, karena itulah pintu hatinya tempat dimana cinta itu ada”

Ya Allah...

Ya Allah…….
Aku tak berdaya mengukur-Mu
Seukuran lebar atau tingginya benda-benda
Seukuran bundarnya dunia
Seukuran luasnya nebula
Seukuran panjangnya aksara

Sebab Kau-lah….
Asalnya segenap jarak
Awalnya segenap nada
Mulanya segenap sabda
Cikalnya segenap warna
Yang maha bijak menata ruang
Yang maha pandai menggelar pandang
Yang maha perkasa menjalin runtutan waktu
Yang maha kuasa mencipta, bahkan memupus kejelmaanku

Karena-Mu………
Pupuskanlah aku tatkala sujud di sajadah warna-Mu
Yang menggelar dari ujung ke ujung keikhlasan
Yang melebar ke sisi-sisi kesucian
Yang menikar ke segenap keimanan
Yang berbinar ke seluruh kebenaran

“Ya Allah, Aku berlindung dari merasa agung dan mulia dalam jiwaku sendiri, Sementara di dalam jiwa orang lain, aku kecil dan hina”

Rabu, 06 Agustus 2008

Di telaga itu, Rosul Menanti

Manusia agung itu memang telah tiada. Setelah dua puluh tiga tahun menebar cahaya islam dengan penuh cinta dan kasih sayang untuk menyelamatkan kita, manusia, beliau pergi menemui Rabbnya. Kepergiannya membuat seisi dunia menangis. Bukan hanya para sahabat yang begitu sangat mencintainya, tapi mimbar dan tongkat yang selalu menemaninya saat berkhutbah, pun ikut berguncang hebat tanda keduanya sedang berduka.
Sungguh wajar, jika lelaki seperti Umar bin Khattab yang terkenal keras, tegas dan tegar, kemudian tiba-tiba panik dan kehilangan kesadaran. Sambil menghunus pedang ia berteriak lantang “Siapa yang mengatakan Muhammad telah mati akan aku tebas batang lehernya”. Juga Bilal, sang muadzin kesayangan yang imannya tak luluh diterba cambuk dan bongkahan batu panas, tampak lesu dan seperti tak punya asa untuk hidup. Ia tidak lagi hendak melantunkan adzan meski Abu Bakar telah berulang kali merayunya. Cinta berbalas cinta.

Meskipun telah tiada, namun kecintaan sang Nabi kepada kita umatnya tiada pernah henti. Walau terkadang yang dicinta tak pandai membalas cinta, juga tak sadar kalau selalu didoakan keselamatan dan ditangisi kesulitan yang menimpanya. Kecintaannya terbawa mati. Bahkan tidak berujung. Cinta itu selalu hadir kapan dan bagaimanapun situasinya. Tak kenal suka maupun duka. Tak terbatas dunia dan akhirat. Tak terbedakan disaat aman atau sedang huru-hara. Disaat seorang ibu dan seorang anak tidak saling mengenal, sekalipun.

Disana, dipadang mahsyar, ketika segenap kita disibukkan oleh urusan kita masing-masing. Ketika kita digiring secara kasar menuju pengadilan Tuhan Yang Maha Bijaksana. Ketika kita dikumpulkan dalam keadaan telanjang dan tanpa alas kaki. Ketika matahari matahari dengan sinarnya yang membakar hanya berjarak satu hasta dari atas kepala. Ketika rasa haus mencekik tenggorokan. Ketika ini dan itu terjadi, cinta itu kembali hadir. Ya, hadir dalam sebuah telaga yang indah nan menyegarkan. Yang semua orang pasti berharap dapat meneguk airnya di tengah berbagai kesulitan yang mendera.
Riwayat tentang telaga itu sungguh banyak terjadi. Tak perlu kita perdebatkan keabsahannya, karena para sahabat dan ulama hingga kini semua membicarakannya. Kita hanya tinggal meyakininya, sebagai bukti iman kepada Allah dan hari akhirat-Nya.
Anas bin Malik pernah bercerita, “Suatu hari ketika Rasulullah SAW sedang berada ditengah-tengah kami, beliau mengantuk. Mendadak beliau terbangun sambil tersenyum. Kami bertanya, “Kenapa engkau tersenyum, wahai Rasulullah?”. Beliau menjawab, “Baru saja turun sebuah surat kepadaku.” Beliau lalu membaca surat Al-Kautsar. Kemudian bertanya, “Tahukah kalian, apa itu Al-Kautsar?” Kami menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang tahu.” Beliau bersabda, “Ia adalah sebuah telaga penuh dengan kebajikan yang dijanjikan oleh Tuhanku kepadaku. PAda hari kiamat nanti umatku akan mendatangi telaga itu.” (HR. Muslim)

Ibnu Abbas ra juga pernah berkata, “Rasulullah ditanya tentang Padang Mahsyar tempat mahluk menghadap Allah; apakah disana ada air?” Beliau menjawab, “Demi Allah yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, disana ada air. Orang-orang yang dikasihi Allah akan mendatangi telaga para Nabi. Allah akan utus tujuh puluh ribu malaikat dengan tangan memegang tongkat dari neraka yang digunakan untuk menghalau orang-orang kafir dari telaga para nabi.”

Telaga itu benar-benar ada, luas dan indah. Dan sungguh sangat indah. Ia hadir dengan nama yang indah pula, Al Kautsar, nikmat yang banyak. Demikian Abdullah bin Abbas, sepupu Nabi SAW menuturkan.
Keindahan fisik telaga itu tergambar dalam banyak sabda Rasulullah SAW. Terdiri dari empat sudut, telaga itu memancarkan kilatan cahaya bagai kilatan cahaya bintang. Jarak antara sudut yang satu ke sudut yang lain ditempuh dengan perjalanan satu bulan Atau ditempuh dengan sejauh perjalanan antara Jarba’ dan Adzruh, dalam riwayat Bukhari. Atau lebih jauh dari jarak antara Ailah dan Aden, dalam riwayat Muslim. Atau antara Aden dan Amman Al Balqa, dalam riwayat Tarmidzi.

Meskipun ukuran panjang atau luas telaga tersebut jaraknya digambarkan dengan ungkapan yang berbeda-beda, tapi ini sama sekali tidak menunjukkan kebimbangan seorang Rasul dalam menyampaikan sesuatu yang hak adanya. Melainkan membuktikan bahwa beliau punya kepekaan yang tinggi untuk meyakinkan lawan bicara atas apa yang disampaikannya. Beliau melakukan itu untuk menyesuaikan dengan siapa beliau berhadapan, bukan ingin membuat orang pusing memikirkan suatu tempat yang tidak dikenalnya. Jika beliau berhadapan dengan penduduk Syiria, beliau menggunakan contoh “antara Adzruh dan dan Jarba”. Jika sedang berhadapan dengan penduduk Yaman, beliau menggunakan contoh “antara Shana’ dan Aden”, dan seterusnya. Terkadang pula ia menggunakan contoh dengan ukuran waktu, seperti sejauh jarak perjalanan sebulan. Semua itu menunjukkan, bahwa telaga Rasulallah memang sangat luas.

Telaga itu diisi dengan air yang putih dan bersih, lebih putih dari susu. Rasanya manis, lebih manis dari madu. Aromanya harum semerbak, lebih harum dari minyak kasturi (HR. Bukhari). Disalah satu sudut telaga terdapat satu sumber yang mengalir dari surga. Juga ada sepasang kran dari surga. Yang satu terbuat dari emas dan satunya lagi terbuat dari perak (HR. Muslim). Orang yang berhasil meminumnya barang seteguk saja, tak akan pernah lagi merasakan kehausan selamanya (HR. Tirmidzi).
Selain sebuah mata air dan sepasang kran dari surga, telaga yang luas itu juga dilengkapi dengan cangkir-cangkir surga yang indah bercahaya. Jumlahnya lebih banyak dari jumlah bintang-bintang di langit, dimalam yang gelap dan tak berawan. Sungguh sebuah deskripsi yang mengisyaratkan jumlah yang sangat banyak dan kemilau cahaya yang amat gemerlap.

Cangkir-cangkir itu, jika seseorang diizinkan menggunakannya untuk meminum air telaga, ia tidaka akan merasakan kehausan lagi setelahnya. Begitu kata Rasulullah, si pemilik telaga menceritakan keistimewaan telaganya.
Mengapa kita harus sampai dan minum di Telaga itu?
Kehidupan di padang mahsyar adalah mas atransisi dari rangkaian sebuah perjalanan abadi. Di kehidupan itu kita akan menemui beragam kesulitan yang maha dahsyat, yang tak pernah terkirakan oleh siapapun.

Berbaur dengan mahluk dari gololngan jin, disana kita dikumpulkan dan digiring menuju pengadilan Allah SWT, Hakim Yang Maha Bijaksana, dalam keadaan telanjang dan hina dina. Kekuasaan yang pernah diberikan kepada kita dimuka bumi telah dicabut. Kita semua menjadi kerdil dan tak lagi sombong. Kondisi kita waktu itu benar-benar diliputi ketegangan, ketakutan dan kengerian yang tiada tara.

Kita semua berkumpul jadi satu di bawah terik matahari yang menyengat sangat panas. Desah nafas kita terdedngar tersengal-sengal. Tubuh kita berhimpitan satu sama lain, sangat rapat dan tidak ada celah sedikitpun. Keringatpun mengucur dari tubuh kita, jauh membasahi bumi. Mula-mula hanya setinggi mata kaki, lalu semakin naik sesuai deengan martabat kita disisi Allah SWT; apakah kita termasuk orang yang beruntung atau yang celaka. Ada diantara kita yang keringatnya naik sampai sebatas lutut. Ada yang sampai sebatas pinggul. Ada yang sampai sebatas pundak. Ada yang sampai sebatas telinga. Dan bahkan ada yang sampai sebatas ujung kepala, hampir tenggelam dengan keringatnya sendiri. Entah apa yang akan terjadi pad diri kita seandainya hari ini kita meninggal dan belum sempat bertaubat. Mungkinkah keringat itu akan menenggelamkan kita? Hanya Allah yang tahu.

Ibnu Abbas meriwayatkan, “pada hari kiamat nanti, bumi akan diratakan seperti meratakan kulit yang disamak, dan luasnya ditambah sekian dan sekian. Seluruh mahluk berada di tanha yang sama, baik jin maupun manusia. Saat itu tiba-tiba langit dicabut dari para penghuninya (para malaikat), sehingga mereka bertebaran di muka bumi. Padahal jumlah mereka jauh lebih banyak daripada jumlah seluruh mahluk yang ada di bumi.”
Ditambahkan pula, bahwa ketika seluruh mahluk telah berkumpul disuatu tempat Allah Yang Maha Agung memerintahkan kepada malaikat penghuni langit lapis pertama atau langit dunia untuk menguasai mereka (penduduk bumi). Masing-masing malaikat tersebut memgang satu orang untuk dipindahkan ke bumi kedua berwarna putih menyala seperti perak. Dengan membentuk satu lingkaran, malaikat penghuni langit lapis pertama tadi berdiri di belakang mahluk seluruh alam. Ternyata jumlah mereka lebih banyak sepuluh kali lipat dari jumlah seluruh isi alam. Selanjutnya Allah memerintahkan malaikat penghuni langit lapis kedua untuk membentuk satu lingkaran, dan jumlah mereka lebih banyak dua puluh kali lipat. Begitu selanjutnya hingga pad giliran malaikat langit ketujuh yang jumlahnya tujuh kali lipat lebih banyak. Sebuah kehidupan yang sungguh sangat menyesakkan.

Abu Bakar bin Barjan berkata, “Seperti itulah yang terjadi. Seluruh manusia berada disatu tempat. Posisi mereka sama. Tetapi, ada salah satu orang atau sebagian dari mereka yang minum air telaga Rasulullah SAW, sementara yang lain tidak bisa. Ada yang berjalan di kegelapan dan berdesak-desakan dengan diterangi cahaya di depannya, dan juga ada yang berjalan dengan melawan arus keringat sendiri yang hampir menenggelamkannya. Semua itu adalah sebagian balasan dari usaha amalnya sewaktu di dunia. Ada juga sebagian dari mereka yang hanya berada di dekat naungan ‘Arsy.”

Kita berdesak-desakan seperti itu selama seribu tahun, tanpa diajak bicara oleh Allah SWT barang sepatah katapun. Nasib kita sungguh menyedihkan. Kondisi kritis itulah yang memaksa kita berusaha mencari Adam mau memintakan syafa’at kepada Allah untuk kita. Saat itu kita mengatakan kepada Adam, “Engkau adalah bapak manusia. Engkau adalah manusia yang diciptakan Allah langsung dengan tangan-Nya sendiri, para malaikat diperintahkan sujud kepadamu, dan Dia meniupkan ruh-Nya pada dirimu. Sekarang ini kami sedang dalam kesulitan yang sangat besar, maka tolonglah mohonkan syafa’at kepada-Nya untuk kami.” Tapi ternyata, kala itu Adam menyatakan tidak sanggup, sebab dia pernah terusir dari surga karena dosanya.

Sementara kepanikan ini belum selesai, disisi lain kita terus didera kehausan yang belum pernah kita alami sama sekali. Alangkah nikmatnya, jika pada saat itu ada yang menawarkan kepada kita air yang lebih nikmat dari susu dan lebih manis dari madu. Alangkah bahagianya, jika dalam kebingungan itu ada yang menyambut kita dengan senyum tulus tanda cinta dan sayang. Alangkah gembiranya, jika disaat kita terdesak itu ada yang membela kita dengan permohonan ampun dan do’a-do’anya yang menyejukkan.
Hari ini kita belum merasakan kesulitan itu. Hari ini kita masih bisa tertawa. Hari ini kita masih bisa bercanda. Tetapi, suatu saat nanti kita akan mengalami kehausan yang sangat, dan kala itu tidak ada yang diberi minum kecuali yang yang pernah memberi minum orang lain karena Allah, tidak ada yang diberi makan kecuali orang yang pernah memberi makan orang lain karena Allah, tidak ada orang yang diberi pakaian kecuali orang yang pernah memberi pakaian kepada orang lain karena Allah, dan tidak ada yang diberi kepercayaan kecuali orang yang pernah bertawakal kepada Allah.

Di Telaga itu Rasul Menanti
Di telaga itu Rasulullah SAW menanti umatnya, dengan luapan cinta dan kasih sayangnya, menyambut mereka yang sedang kehausan. Beliau sangat mengenali umatnya, karena memang mereka memiliki tanda-tanda yang tidak dipunyai oleh siapapun dari umat lain. “Kalian akan datang kepadaku dengan muka, lengan, dan betis yang berkilauan karena bekas air wudlu,” tegas beliau dalam sabdanya.
Dan, orang yang pertama kali datang menghampiri telaga itu adalah para fakir miskin dari golongan Muhajirin. Tsauban ra meriwayatkan dari Rasulullah SAW, beliau bersabda, “Manusia pertama yang akan datang kesana adalah para fakir miskin kaum Muhajirin yang pakaiannya kotor, yang kepalanya berambut kusut, yang tidak menikah dengan wanita-wanita yang hidup sejahtera, dan tidak dibukakan bagi mereka pintu-pintu rumah.” (HR. Ibnu Majah).

Anas bin Malik menambahkan, “Orang pertama yang mendatangi telaga Rasulullah adalah orang-orang yang kurus kering yang puasa dan menetap di masjid. Ketika malam tiba, mereka menyambutnya dengan sedih.”
Ketika mendengar hadits dari Tsauban di atas, Umar bin Khattab menangis sesenggukan sehingga air matanya membasahi jenggotnya. Ia berkata,”Tetapi, aku menikah dengan wanita-wanita yang hidup sejahtera, dan aku dibukakan pintu-pintu rumah.” Ia amat sedih dan khawatir kalau-kalau tidak dapat merasakan nikmatnya air telaga Rasulullah SAW.
Umar menangis, padahal ia adalah bagian dari sepuluh orang yang dijamin masuk surga. Umar menangis, padahal ia termasuk dalam golongan orang-orang yang pertama masuk islam. Umar menangis, padahal ia salah satu prajurit Badar. Umar menangis, padahal Anas bin Malik meriwayatkan ia akan menjadi penjaga salah satu sudut telaga sang Rasul. Umar menangis, padahal ia memiliki banyak keistimewaan disisi Allah dan Rasul-Nya.
Siapakah kita dibanding Umar? Adakah kita pernah menangisi keadaan kita di hari yang menceckam itu? Kita bukan siapa-siapa. Namun anehnya, airmata kita belum pernah setetespun mengalir, menangis karena takut tidak kebagian barang seteguk pun air telaga. Padahal kita tidak tahu bagaimana kondisi kita saat itu, apakah terusir ataukah dibiarkan mendeekat.

Rasulullah SAW bersabda, “Aku terus berada di telaga sampai aku melihat siapa diantara kalian yang datang. Dan beberapa orang yang dilarang mendekati aku, lalu aku katakan, “Wahai Tuhanku, biarkan mereka mendekati aku. Mereka adalah umatku.” Allah bertanya kepadaku, “Tahukah kamu apa yang mereka lakukan sepeninggalmu? Sesungguhnya sepeninggalmu dahulu mereka murtad.” “Kamu tidak tahu apa yang mereka ada-adakan sepeninggalmu.”

Cinta Rasul kepada umatnya tidak akan pudar. Meski ada dari umatnya yang dilarang mendekat, beliau terus berdo’a memohon kepada Allah agar mereka diperkenankan mendekati telaganya. Tapi cinta itu tidak akan berpengaruh pada keselamatan kita jika kita tidak pandai membalas cintanya; dengan mengikuti seruannya dan menghindari larangannya.
Memang, telaga dan semua kenikmatannya itu bukan akhir dari segalanya. Perjalanan kita menuju persinggahan terakhir; surga atau neraka, masih sangat panjang. Setelahnya kita akan menghadapi perhitungan amal yang tidak kalah menegangkan. Lalu amal-amal itu akan ditimbang untuk diberi balasan. Selanjutnya kita akan menuju Shirat dengan terlebih dahulu melewati tujuh jembata, dimana di masing-masing jembatan itu akan ditanyakan keimanan, shalat, puas Ramadhan, zakat, haji dan umrah, mandi wajib dan wudhu, dan kezaliman-kezaliman yang pernah kita lakukan pada sesama manusia. Kata sebagian ulama, kita tidak akan melangkah ke jembatan berikutnya jika pada jembatan sebelumnya kita gagal.

Perjalanan setelah telaga sungguh masih sangat panjang dan berat. Begitupun, bisa mampir dan minum di telaga Rasul itu sungguh sebuah karunia besar. Perjalanan memang belum lagi selesai. Tapi mendapatkan minum dari telaga yang sesudahnya tidak lagi ada haus sungguh sangat didambakan. Itu akan sangat meringankan, dihari ketika segalanya berubah begitu mengerikan, panas, haus dan mencekam.
Hari ini, entah di ujung pelarian mana kita menuju. Tapak demi tapak adalah keniscayaan menuju kematian. Di telaga itu, kelak, Rasul setia menanti. Dengan cinta dan kasih sayangnya. Tak ada yang patut dilakukan, kecuali senantiasa memohon, agar bila tiba saatnya, kita bisa bertemu Rasul di telaga itu, lalu minum sepuas hati.

Disana, di telaga itu, Rasul menanti.

Doa Sunyi

Dan kumasuki malam, ya Robb
Ketika siang hari aku harus mulai berjalan
berjubah celaan orang-orang
dan siang hari aku harus mulai terlelap
berselimut sisa-sisa air mata
dan demi Nama-Mu
harus aku berkata,
"Tidak apa-apa."

Dan kumasuki malam, ya Robb
ketika di antara celoteh orang-orang
tidak lagi kutemukan hatiku
di antara keriaan orang-orang
tidak lagi kutemukan tawaku

Hanya dengan Nama-Mu
aku ingin berkata-kata
Hanya dengan Nama-Mu
aku ingin berbunga
Tetapi,
aku tidak bisa

Maka, ya Robb
Sanggupkan aku
Diam dan berbicara
hanya di hadapan-Mu
Tertawa dan menangis
hanya karena-Mu
Hidup dan mati
hanya pada-Mu

Sanggupkan aku, Robbi, tolong sanggupkan
karena sungguh aku ingin menemukan
bahwa Engkau sangat dekat.

Bila Aku Jatuh Cinta

Ya Allah, jika aku jatuh cinta,
cintakanlah aku pada seseorang yang
melabuhkan cintanya pada-Mu,
agar bertambah kekuatan ku untuk mencintai-Mu.
Ya Muhaimin, jika aku jatuh cinta,
jagalah cintaku padanya agar tidak
melebihi cintaku pada-Mu

Ya Allah, jika aku jatuh hati,
izinkanlah aku menyentuh hati seseorang
yang hatinya tertaut pada-Mu,
agar tidak terjatuh aku dalam jurang cinta semu.

Ya Rabbana, jika aku jatuh hati,
jagalah hatiku padanya agar tidak
berpaling pada hati-Mu.

Ya Rabbul Izzati, jika aku rindu,
rindukanlah aku pada seseorang yang
merindui syahid di jalan-Mu.

Ya Allah, jika aku rindu,
jagalah rinduku padanya agar tidak lalai aku
merindukan syurga-Mu.

Ya Allah, jika aku menikmati cinta kekasih-Mu,
janganlah kenikmatan itu melebihi kenikmatan indahnya bermunajat
di sepertiga malam terakhirmu.

Ya Allah, jika aku jatuh hati pada kekasih-Mu,
jangan biarkan aku tertatih dan terjatuh dalam perjalanan panjang
menyeru manusia kepada-Mu.

Ya Allah, jika Kau halalkan aku merindui kekasih-Mu,
jangan biarkan aku melampaui batas
sehingga melupakan aku
pada cinta hakiki dan rindu abadi hanya kepada-Mu.

Ya Allah Engaku mengetahui bahwa hati-hati ini
telah berhimpun dalam cinta pada-Mu,
telah berjumpa pada taat pada-Mu,
telah bersatu dalam dakwah pada-MU,
telah berpadu dalam membela syariat-Mu.
Kukuhkanlah Ya Allah ikatannya.
Kekalkanlah cintanya.
Tunjukilah jalan-jalannya.
Penuhilah hati-hati ini dengan Nur-Mu yang tiada pernah pudar.
Lapangkanlah dada-dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu
dan keindahan bertawakal di jalan-Mu.


(As-Syahid Syed Qutb)